Bersama teman yang hobi hunting foto. Jalan-jalan kali ini menuju ke dataran tinggi Dieng. Udara dingin pun langsung menyapa di sepanjang perjalanan melewati rute Kajen, Linggo Asri, Paninggaran, Kali Bening, Wanayasa, Batur, hingga Dieng. Sesampainya di Batur untuk rehat sementara mampir ke pangkalan bakso kecil, hanya untuk sekedar menghangatkan badan. Namun tangan ini untuk sekedar megang sendok saja rasanya gak bisa diem, huh...sungguh menggigil seluruh tubuh ini (jadi gak nikmat makannya).
Motor
pun kembali kami digeber untuk menuju ke Dieng. Kabut dan gelapnya
malam setia menghiasi disepanjang jalan. Pengorbanan terbayarkan
sesampai di kota Dieng. Keramaian wisatawan dan penduduk sekitar
sangat kontras dengan suasana beberapa kilometer sebelum sampai ke
kota ini.
Memang
malam itu ada acara wayang kulit dan pesta kembang api di lap.candi
Arjuna Jadi banyak hiruk pikuk warga yang hendak menonton acara.
Namun kami memutuskan untuk cepat-cepat mencari homestay dan
merelakan tak menikmati suguhan acara tersebut, karena hawa dingin
yang menusuk ke sendi-sendi tulang ini.
Oh iya hanya sekedar
informasi bahwa disana tarif homestay rata-rata 150 ribu, namun kami
bersyukur dapat yang agak murahan 100 ribu saja meski tidur lesehan
beralaskan kasur dan dipinjami bantal plus selimut tebal. Sebenernya
sih...dah lumayan juga fasilitasnya ada air mandi anget, ada air
panas buat bikin minum sendiri, ada juga perapian buat menghangatkan
tangan atau tubuh biar gak kedinginan. Mungkin karena kami
ditempatkan di ruang tamu dan bersifat darurat maka kami pun
diberikan harga diskon (disamping itu memang kita cari yang murahan
juga sihh...haha..sesuai kantonglah).
Sembari
tiduran dan menahan dingin yang gak karuan. Bahkan baju rangkap 2
ditambah jaket tebal dan selimut, tetep aja dinginnya minta ampun.
Sayup-sayup terdengar suara gamelan jawa mengiringi pagelaran wayang.
Namun kami tak tergoda sedikitpun untuk beranjak dari kasur empuk
yang dah lumayan kerasa anget di badan.
Hingga acara kembang api ditembakkan kami pun tetep getol gak keluar
rumah, yah...sekedar ngintip aja cukuplah. Dan tak terasa badan ini
dah tak sadarkan diri diselimuti hawa dingin sepanjang malam hingga
pagi.
Alarm
HP yang coba membangunkan kami, tak bisa mengalahkan dinginnya udara
yang menuntut untuk tetap diem di pembaringan. Hingga akhirnya jam 9 pagi
kami pun memberanikan diri untuk keluar menikmati panorama dan
suasana berbagai acara yang disuguhkan oleh panitia “Dieng
Culture Festival 2012”.
![]() |
numpang narsis di telaga warna |
![]() |
panas-panasan di kawah sikidang |
Monggo
diteruskan kisahnya di “Dieng Culture Festival 2012”.